banner 728x90

Terima Laporan Dari Masyarakat, Polsek Bengalon Amankan Pelaku Persetubuhan

TRIBRATAKUTIMNEWS.COM – Personel Polsek Bengalon mengamankan terduga pelaku persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang terjadi di PT. DSN wilayah Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Kapolres Kutai Timur AKBP Anggoro Wicaksono, SH., SIK., MH. membenarkan hal tersebut. “Terduga pelaku adalah seorang laki laki berusia 21 tahun, berinisial MA. Dugaan kasus persetubuhan ini dilakukan pelaku di 4 lokasi selama kurun waktu 2 bulan terkahir, pada hari Senin (14/11/2022) dini hari,” ujarnya seperti dilaporkan Karyawan PT.DSN BengalonMinggu (3/4).

Lanjutnya, pelaku diamankan petugas kepolisian pada hari Rabu (12/11/2022), saat sedang berada di PT. DSN.

Kejadian bermula pada hari Sabtu Tanggal 12 November 2022 sekira Pukul 08.00 Wita pada saat itu pelapor berada dimess dan kemudian dipanggil oleh Sdra. ASHAR dan menyampaikan bahwa pelapor disuruh ke kantor PT. DSN, mengetahui hal tersebut kemudian pelapor langsung ke kantor PT. DSN dan setelah sampai di kantor PT. DSN kemudian Sdra. AMRI asisten PT. DSN menyampaikan bahwa anak pelapor Sdra. NA yang masih berumur 12 tahun di setubuhi oleh Sdra. MA, dan kemudian anak pelapor juga menjelaskan bahwa anak pelapor Sdri. NA sudah 4 (Empat) kali disetubuhi Oleh terlapor yaitu ;

  1. Bulan September 2022 di belakang Gereja Katholik PT. DSN.
  2. Bulan September 2022 di samping masjid PT. DSN.
  3. Bulan Oktober 2022 di Rumah Pelapor.
  4. Bulan Oktober 2022 di belakang Gereja Katholik PT. DSN.
    dan kemudian pelapor sebagai orang tua merasa keberatan dan melaporkan hal tersebut ke Polsek Bengalon untuk proses hukum lebih lanjut.

“Berdasarkan laporan itu, terduga pelaku berhasil ditangkap dan diamankan di Polsek Bengalon, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Kapolres Kutim melalui Kapolsek Bengalon.

Terduga pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang, dengan ancaman pidana 15 tahun penjara.

Humas Polres Kutai Timur